Kamis, Maret 26, 2026

WFH Sehari Kembali Diwacanakan,...

Jakarta — Rencana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk...

Potongan Tarif Tol Kembali...

Jakarta — Diskon tarif tol kembali diberlakukan pada periode arus balik Lebaran 2026....

Usai Torehkan Sejarah di...

Jakarta — Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, menunjukkan optimisme tinggi jelang seri...

Agustina Pastikan Kesiapan Posko...

SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama jajaran Forkopimda Rabu (18/3) melakukan...
BerandaUncategorizedPernyataan Trump Soal...

Pernyataan Trump Soal Perang Iran Dikritisi Pakar, Dinilai Bermuatan Politik

Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran saat ini hampir berakhir. Namun, pandangan tersebut dinilai belum tentu dipercaya oleh Iran.

Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah, menilai pernyataan Trump lebih merupakan upaya politik untuk memperkuat citranya di mata publik Amerika Serikat. Menurutnya, Trump berpotensi memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang berhasil menyelesaikan konflik internasional.

“Jika publik internasional menerima gagasan tersebut, maka kredibilitas Donald Trump akan meningkat. Hal itu sekaligus dapat memperbaiki citranya di dalam negeri yang saat ini sedang menghadapi berbagai kritik,” kata Rezasyah kepada wartawan, Kamis (12/3/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut juga bisa menguntungkan Partai Republik menjelang pemilihan sela yang akan berlangsung pada November mendatang.

Meski demikian, Rezasyah menilai Iran kemungkinan besar tidak akan langsung mempercayai pernyataan Trump. Hal ini disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang menunjukkan beberapa kesepakatan damai antara kedua negara tidak berjalan konsisten.

“Bagi Iran, ide yang disampaikan Presiden Trump tidak mudah dipercaya. Sejak Trump menjabat sebagai presiden, upaya damai Iran setidaknya sudah tiga kali dilanggar oleh Amerika Serikat melalui berbagai aksi pemboman,” ujarnya.

Ia juga menyinggung serangan udara yang terjadi pada 28 Februari lalu yang disebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa tersebut dinilai oleh pemerintah dan masyarakat Iran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.

Rezasyah mengatakan bahwa peristiwa tersebut semakin memperkuat ketidakpercayaan Iran terhadap kepemimpinan Trump.

“Bagi pemerintah dan masyarakat Iran, Trump dianggap sebagai pemimpin yang tidak konsisten dan sulit dipercaya,” ujarnya.

Menurutnya, sekalipun kedua negara membuka peluang dialog, hasil kesepakatan yang tercapai berpotensi kembali dipersoalkan oleh Amerika Serikat.

“Jika suatu saat tercapai kesepakatan, ada kemungkinan Amerika Serikat sendiri yang akan membatalkannya atau mengubah arah kebijakan tersebut,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rezasyah menyebut bahwa Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Mojtaba Khamenei saat ini lebih fokus menunjukkan kepada dunia bahwa mereka tetap mempertahankan kedaulatan negara sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ia menilai menerima tawaran damai dari Amerika Serikat berpotensi menimbulkan preseden buruk dalam praktik hukum internasional.

“Menerima tawaran Amerika Serikat dapat menciptakan tradisi yang kurang baik dalam hukum internasional, terutama jika negara yang dianggap melanggar Piagam PBB justru menentukan arah perdamaian,” jelasnya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa perang melawan Iran hampir sepenuhnya selesai. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara telepon dengan CBS News.

Seperti dilaporkan Reuters, Selasa (10/3/2026), Trump menyampaikan bahwa perkembangan konflik berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal.

“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya,” kata Trump dalam wawancara tersebut.

Trump juga mengklaim bahwa kekuatan militer Iran saat ini telah melemah secara signifikan.

“Mereka tidak memiliki angkatan laut, komunikasi mereka terganggu, dan angkatan udara mereka hampir tidak ada. Rudal mereka juga tersisa sedikit dan banyak drone mereka telah dihancurkan,” ujarnya.

Menurut militer Amerika Serikat, lebih dari 3.000 target di wilayah Iran telah diserang dalam pekan pertama operasi militer yang dinamai “Operation Epic Fury”.

Trump menambahkan bahwa perkembangan operasi militer tersebut berlangsung jauh lebih cepat dari prediksi awal.

“Kita jauh lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan,” katanya.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat setelah serangan militer besar dilancarkan pada 28 Februari lalu yang memicu eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Berita Lainnya

WFH Sehari Kembali Diwacanakan, Pemerintah Klaim Sudah Siap Jalankan

Jakarta — Rencana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) tinggal menunggu keputusan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut mayoritas kementerian dan lembaga telah menyatakan persetujuan terhadap skema...

Potongan Tarif Tol Kembali Hadir, Berlaku 26–27 Maret di Sejumlah Ruas

Jakarta — Diskon tarif tol kembali diberlakukan pada periode arus balik Lebaran 2026. Potongan tarif yang diberikan cukup signifikan, rata-rata sekitar 30 persen, bahkan pada beberapa ruas mencapai lebih tinggi. Kebijakan ini diterapkan selama empat hari pada sejumlah ruas tol...

Usai Torehkan Sejarah di Brasil, Veda Ega Siap Lanjutkan Tren Positif

Jakarta — Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, menunjukkan optimisme tinggi jelang seri ketiga Moto3 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat. Meski akan tampil di lintasan baru, ia tetap percaya diri mampu bersaing di papan atas. Balapan Moto3 Amerika...