Sabtu, September 26, 2026

BGN Investigasi Keracunan MBG...

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi...

Tabrak Lari Berujung Maut,...

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026)...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu...

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias...

Karhutla Kepung Sejumlah Wilayah...

Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan...
BerandaUncategorizedRupiah Jebol Rp18.100,...

Rupiah Jebol Rp18.100, Tekanan Global Makin Menguat

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Senin (13/7/2026). Mata uang Indonesia tersebut menembus level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.06 WIB rupiah tercatat melemah sebesar 0,38 persen ke posisi Rp18.110 per dolar AS. Level tersebut dicapai hanya sekitar enam menit setelah pasar dibuka.

Sebelumnya, pada pukul 09.00 WIB, rupiah telah dibuka dengan pelemahan 0,17 persen di level Rp18.075 per dolar AS.

Pergerakan tersebut berbalik arah dibandingkan perdagangan terakhir pada Jumat (10/7/2026). Saat itu, rupiah berhasil ditutup menguat pada posisi Rp18.045 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya kekuatan dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,22 persen menjadi 101,178 pada pukul 09.00 WIB.

Penguatan dolar AS dipengaruhi oleh kembali memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi serta peluang kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral dunia.

Pada akhir pekan, pasukan Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Iran dilaporkan menyerang sejumlah fasilitas AS di negara-negara Teluk serta kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis perdagangan energi global. Ketegangan di kawasan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Pada awal perdagangan Asia, harga minyak Brent tercatat naik sekitar 3,3 persen menjadi US$78,49 per barel.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut juga dapat memperbesar kemungkinan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kembali menaikkan suku bunga.

Berita Lainnya

BGN Investigasi Keracunan MBG Sidoarjo, Distribusi Lewat Empat Jam Jadi Temuan Awal

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, berdampak pada ratusan santri dan pelajar. Hingga Kamis, 3 September 2026 sore, jumlah penerima manfaat yang terdampak tercatat mencapai...

Tabrak Lari Berujung Maut, Perempuan Pengemudi Outlander Jadi Tersangka

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026) dini hari. Seorang perempuan berinisial ENR (32) yang mengemudikan Mitsubishi Outlander diduga berkendara dalam pengaruh alkohol hingga terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Peristiwa...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu Persiapan, Aksi Warga Pati Tetap Jalan

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, menjadi perhatian publik. Rekening Bank Mandiri tersebut diketahui menampung dana pribadi sekaligus donasi masyarakat yang dihimpun untuk mendukung rencana aksi warga Pati di Jakarta. Saat pemblokiran...