Sabtu, September 26, 2026

BGN Investigasi Keracunan MBG...

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi...

Tabrak Lari Berujung Maut,...

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026)...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu...

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias...

Karhutla Kepung Sejumlah Wilayah...

Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan...
BerandaNasionalNTT Masih Diguncang...

NTT Masih Diguncang Gempa Susulan, BMKG Ingatkan Potensi hingga Sebulan

Jakarta — Aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung setelah gempa bumi kuat mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan hingga Jumat (21/8) pukul 05.00 WIB.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah terdampak masih cukup tinggi. Gempa susulan terjadi dengan kekuatan yang beragam, mulai dari guncangan kecil hingga gempa yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Gempa utama yang memicu rangkaian aktivitas tersebut memiliki magnitudo 7,7 dan terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Berdasarkan analisis BMKG, gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas tektonik Flores Back-Arc Thrust.

Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi

BMKG mengingatkan masyarakat bahwa rangkaian gempa susulan belum sepenuhnya berakhir. Berdasarkan analisis terhadap pola peluruhan aktivitas gempa, gempa susulan masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan setelah gempa utama.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto sebelumnya menyampaikan bahwa aktivitas tersebut secara bertahap diperkirakan mengalami penurunan dan dapat berlangsung sekitar 3–4 minggu setelah gempa utama. Perkiraan tersebut merupakan hasil analisis sementara sehingga tidak dapat dianggap sebagai waktu pasti berhentinya seluruh aktivitas gempa.

Masyarakat di wilayah terdampak pun diminta tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika merasakan guncangan yang cukup kuat.

Gempa Utama Sempat Picu Tsunami

Gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus lalu juga memicu tsunami di sejumlah wilayah. Berdasarkan pengamatan stasiun pasang surut, gelombang tsunami terpantau di 16 lokasi yang tersebar di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, dengan ketinggian sekitar 1,605 meter. Sementara itu, tsunami terendah terpantau di Bakalang, Alor, dengan ketinggian sekitar 0,14 meter.

Saat gempa utama terjadi, BMKG juga menerbitkan peringatan dini tsunami. Peringatan tersebut kemudian dinyatakan berakhir sekitar pukul 07.30 WIB atau lebih dari dua jam setelah gempa utama.

BMKG Ingatkan Bahaya Bangunan Rusak

Dengan masih berlangsungnya aktivitas gempa susulan, BMKG mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan.

Warga diminta tidak memasuki bangunan yang retak, rusak, atau dinilai tidak lagi aman, karena guncangan susulan berpotensi memperparah kerusakan bahkan menyebabkan bangunan roboh.

Kewaspadaan juga diperlukan di kawasan perbukitan dan wilayah dengan tebing curam. Guncangan yang cukup kuat dapat memicu longsor maupun runtuhan material di daerah yang kondisi tanahnya tidak stabil.

Tim BMKG Turun ke Wilayah Terdampak

Untuk mengetahui dampak gempa secara lebih rinci, BMKG telah mengerahkan tim dari pusat maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT) ke sejumlah wilayah terdampak.

Tim melakukan berbagai survei, mulai dari pengamatan makroseismik, pengukuran karakteristik tanah melalui mikrotremor dan MASW, pemantauan gempa susulan, hingga verifikasi dampak tsunami di lapangan.

Data yang diperoleh nantinya dapat digunakan untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi. Selain itu, hasil survei juga menjadi bahan dalam penyusunan pemetaan mikrozonasi pascagempa serta rekomendasi mitigasi agar pembangunan di wilayah terdampak dapat dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan bencana.

BMKG juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah yang perlu dilakukan ketika gempa susulan kembali terjadi.

Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dari kanal resmi BMKG dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi. Dengan aktivitas kegempaan yang masih berlangsung, kewaspadaan menjadi penting untuk mengurangi risiko korban maupun kerusakan tambahan di wilayah terdampak.

Berita Lainnya

BGN Investigasi Keracunan MBG Sidoarjo, Distribusi Lewat Empat Jam Jadi Temuan Awal

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, berdampak pada ratusan santri dan pelajar. Hingga Kamis, 3 September 2026 sore, jumlah penerima manfaat yang terdampak tercatat mencapai...

Tabrak Lari Berujung Maut, Perempuan Pengemudi Outlander Jadi Tersangka

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026) dini hari. Seorang perempuan berinisial ENR (32) yang mengemudikan Mitsubishi Outlander diduga berkendara dalam pengaruh alkohol hingga terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Peristiwa...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu Persiapan, Aksi Warga Pati Tetap Jalan

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, menjadi perhatian publik. Rekening Bank Mandiri tersebut diketahui menampung dana pribadi sekaligus donasi masyarakat yang dihimpun untuk mendukung rencana aksi warga Pati di Jakarta. Saat pemblokiran...