Sabtu, September 26, 2026

BGN Investigasi Keracunan MBG...

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi...

Tabrak Lari Berujung Maut,...

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026)...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu...

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias...

Karhutla Kepung Sejumlah Wilayah...

Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan...
BerandaBudayaGunungan Hasil Bumi...

Gunungan Hasil Bumi Diarak, Sesaji Rewanda Jadi Daya Tarik Wisata Semarang

SEMARANG — Suasana khidmat bercampur riuh kebahagiaan telah menyelimuti kawasan Gua Kreo pada Sabtu (28/3). Sepekan setelah Idul Fitri, tradisi Sesaji Rewanda kembali digelar, dan kera-kera yang menjadi penghuni kawasan itu pun “dipersilakan berpesta” melalui sesaji hasil bumi yang telah disiapkan warga.

Tradisi ini tidak sekadar dipertontonkan sebagai agenda wisata, melainkan telah diwariskan lintas generasi dan dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah serta keseimbangan alam.
Kirab Budaya Dibuka, Gunungan Hasil Bumi Diarak

Prosesi sakral telah diawali dengan kirab budaya yang digelar sejak pagi hari. Tujuh gunungan berisi hasil bumi mulai dari buah-buahan, sayur-mayur, ketupat hingga sego kethek dibawa oleh warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati.

Simbol-simbol tradisi pun ditampilkan. Replika kayu jati turut diarak, yang dipercaya merepresentasikan perjalanan Sunan Kalijaga saat mengangkut kayu dari Gua Kreo untuk pembangunan Masjid Agung Demak.

Setelah tiba di lokasi, doa-doa telah dilantunkan sebagai pembuka sebelum hasil bumi dibagikan kepada para kera. Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap makhluk hidup yang diyakini memiliki keterkaitan historis dengan penyebaran Islam di tanah Jawa.

“Monyet-Monyet Ini Konon Membantu Sunan Kalijaga”

Makna tradisi tersebut telah ditegaskan oleh Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori. Ia menyebutkan bahwa keberadaan kera tidak dipandang sebagai gangguan, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya.

“Monyet-monyet ini konon membantu Sunan Kalijaga, warga di sini diberi tugas dan amanah untuk melestarikan Gua Kreo dan Waduk Jatibarang, termasuk menjaga kera-kera yang ada ini,” ucap Saiful.

Nilai-nilai tersebut telah ditanamkan secara turun-temurun. Oleh sebab itu, harmoni antara manusia dan satwa tetap terjaga hingga kini.

“Makanya warga di sini tidak berani menangkap atau membunuh kera-kera di Gua Kreo. Kami hidup berdampingan dengan mereka satu sama lainnya,” lanjutnya.

Sesaji Rewanda diketahui telah menjadi bagian penting dalam tradisi Syawalan masyarakat Semarang. Rasa syukur atas rezeki, kesehatan, serta keselamatan hidup telah diwujudkan melalui ritual ini.
Nilai pelestarian juga ditekankan. Tradisi ini tidak hanya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam dan sesama makhluk hidup.

Rangkaian acara telah diperkaya dengan pertunjukan “Mahakarya Gua Kreo” yang digelar sehari sebelumnya. Lebih dari 150 penari dan pemusik telah dilibatkan dalam pertunjukan kolosal tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menjelaskan bahwa rangkaian acara telah dirancang secara terintegrasi.

“Rangkaian acaranya sejak tadi malam ada Mahakarya Gua Kreo, yang ditampilkan secara kolosal dengan lebih dari 150 penari dan pemusik. Hari ini dilanjutkan dengan prosesi Sesaji Rewanda,” ungkapnya.

Menurutnya, ingatan kolektif tentang syiar Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga terus dihidupkan melalui kegiatan budaya tersebut.

“Ini simbol semangat gotong royong dan persatuan. Kami ingin menyeimbangkan kehidupan manusia dengan flora, fauna, dan alam sekitarnya. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat hidup, di sini semuanya hidup berdampingan dengan rukun,” tandasnya.

Keberadaan kera di Gua Kreo tidak hanya dipandang sebagai bagian ekosistem, tetapi juga sebagai identitas budaya. Interaksi harmonis telah dibangun dan dijaga oleh masyarakat setempat.

Dalam konteks pariwisata, tradisi ini juga telah dikembangkan sebagai daya tarik unggulan. Wisatawan tidak hanya disuguhkan pemandangan alam, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik.

Berita Lainnya

BGN Investigasi Keracunan MBG Sidoarjo, Distribusi Lewat Empat Jam Jadi Temuan Awal

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, berdampak pada ratusan santri dan pelajar. Hingga Kamis, 3 September 2026 sore, jumlah penerima manfaat yang terdampak tercatat mencapai...

Tabrak Lari Berujung Maut, Perempuan Pengemudi Outlander Jadi Tersangka

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026) dini hari. Seorang perempuan berinisial ENR (32) yang mengemudikan Mitsubishi Outlander diduga berkendara dalam pengaruh alkohol hingga terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Peristiwa...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu Persiapan, Aksi Warga Pati Tetap Jalan

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, menjadi perhatian publik. Rekening Bank Mandiri tersebut diketahui menampung dana pribadi sekaligus donasi masyarakat yang dihimpun untuk mendukung rencana aksi warga Pati di Jakarta. Saat pemblokiran...