Sabtu, September 26, 2026

BGN Investigasi Keracunan MBG...

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi...

Tabrak Lari Berujung Maut,...

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026)...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu...

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias...

Karhutla Kepung Sejumlah Wilayah...

Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan...
BerandaEkonomiHarga Minyak Brent...

Harga Minyak Brent Tembus 100 Dollar AS sebelum Kembali Terkoreksi

Jakarta – Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tajam sepanjang pekan ini. Minyak mentah Brent sempat menembus level 100 dollar AS per barel, didorong kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, harga minyak Brent berada di level 96,78 dollar AS per barel. Harga tersebut turun 3,91 dollar AS atau sekitar 3,88 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Meski mengalami koreksi harian, Brent masih membukukan kenaikan hampir 10 persen secara mingguan.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI ditutup pada posisi 89,31 dollar AS per barel. Harga minyak acuan Amerika Serikat tersebut turun 2,88 dollar AS atau sekitar 3,12 persen, tetapi tetap mencatat kenaikan mingguan sebesar 8,27 persen.

Sebelumnya, harga Brent sempat bertahan di atas 100 dollar AS per barel pada perdagangan Kamis. Pencapaian itu menjadi yang pertama sejak Mei 2026. Kenaikan harga terjadi setelah pasar mengkhawatirkan meningkatnya risiko terhadap jalur pengiriman dan pasokan minyak global.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga minyak. Kedua negara dilaporkan kembali saling melancarkan serangan, sementara lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz menurun drastis. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman juga meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Kelompok Houthi sebelumnya dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur Bab el-Mandeb, salah satu rute penting bagi pengiriman energi dunia setelah Selat Hormuz.

Situasi tersebut membuat sejumlah kapal tanker mengubah rute perjalanannya. Beberapa pengiriman minyak Arab Saudi terpaksa dialihkan melalui jalur yang mengitari Afrika, sehingga waktu perjalanan dan biaya pengangkutan menjadi lebih besar.

Gangguan pasokan juga datang dari Kazakhstan. Produksi minyak negara tersebut dikurangi setelah dugaan serangan pesawat nirawak Ukraina memaksa terminal ekspor utama di Laut Hitam menghentikan sementara operasionalnya. Kondisi itu membuat pembeli minyak berupaya mencari pasokan alternatif dari kawasan lain.

Harga minyak fisik di kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika pun mengalami kenaikan signifikan. Harga acuan Brent untuk pengiriman fisik sempat mencapai 105,70 dollar AS per barel, sedangkan minyak jenis Forties dari Laut Utara meningkat hingga 108,77 dollar AS per barel.

Namun, harga minyak kembali terkoreksi pada perdagangan Jumat setelah muncul laporan bahwa China berupaya mendorong dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan terhadap penyelesaian konflik membuat pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan yang lebih besar.

Meski demikian, kondisi pasar energi global masih dinilai rentan. Persediaan minyak relatif terbatas, sedangkan aktivitas pengiriman melalui sejumlah jalur strategis masih terganggu. Analis JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan dapat meningkatkan harga Brent sekitar 7 hingga 8 dollar AS per barel. Apabila gangguan berlangsung selama tiga bulan, rata-rata harga Brent berpotensi mencapai sekitar 114 dollar AS per barel.

Pelaku pasar kini terus mengamati perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan jalur perdagangan Laut Merah dan Selat Hormuz, serta upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Perubahan situasi geopolitik diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu mendatang.

Berita Lainnya

BGN Investigasi Keracunan MBG Sidoarjo, Distribusi Lewat Empat Jam Jadi Temuan Awal

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, berdampak pada ratusan santri dan pelajar. Hingga Kamis, 3 September 2026 sore, jumlah penerima manfaat yang terdampak tercatat mencapai...

Tabrak Lari Berujung Maut, Perempuan Pengemudi Outlander Jadi Tersangka

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026) dini hari. Seorang perempuan berinisial ENR (32) yang mengemudikan Mitsubishi Outlander diduga berkendara dalam pengaruh alkohol hingga terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Peristiwa...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu Persiapan, Aksi Warga Pati Tetap Jalan

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, menjadi perhatian publik. Rekening Bank Mandiri tersebut diketahui menampung dana pribadi sekaligus donasi masyarakat yang dihimpun untuk mendukung rencana aksi warga Pati di Jakarta. Saat pemblokiran...