Sabtu, September 26, 2026

BGN Investigasi Keracunan MBG...

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi...

Tabrak Lari Berujung Maut,...

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026)...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu...

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias...

Karhutla Kepung Sejumlah Wilayah...

Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan...
BerandaRegionalKarnaval Paskah Semarang...

Karnaval Paskah Semarang Tunjukkan Nasionalisme yang Inklusif dan Membumi

SEMARANG – Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Di tengah keberagaman masyarakat, kegiatan ini tampil sebagai ruang publik yang menyalakan kembali semangat nasionalisme melalui pendekatan budaya yang inklusif dan membumi.

Sejak awal pelaksanaan, perhatian masyarakat tertuju pada bentangan bendera merah putih sepanjang kurang lebih 100 meter yang diarak oleh ratusan anak muda lintas komunitas.

Visual tersebut tidak hanya menghadirkan kemegahan, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan di tengah perbedaan. Karnaval yang menempuh rute dari Kota Lama hingga berakhir di halaman Balai Kota Semarang ini menghadirkan ribuan peserta dan masyarakat yang turut menyaksikan, menjadikannya sebagai momentum kebersamaan yang hidup di ruang kota.

Yunike dari komunitas History Maker menjelaskan bahwa kehadiran simbol kebangsaan berupa bendera merah putih dalam perayaan Paskah merupakan pesan yang sengaja dihadirkan, terutama bagi generasi muda.

“Walaupun ini perayaan Paskah, kita tetap tidak bisa lepas dari semangat kebangsaan Indonesia. Bendera ini melambangkan bahwa kita berbeda-beda budaya, agama, tetapi tetap satu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman yang cepat.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dirawat agar generasi muda tidak melupakan budaya dan nilai-nilai yang bangsa Indosia miliki,” imbuhnya.

Melalui pendekatan yang menggabungkan ekspresi budaya, partisipasi generasi muda, dan simbol kebangsaan, Karnaval Paskah di Kota Semarang menunjukkan bahwa nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi dapat tumbuh secara alami melalui ruang-ruang interaksi sosial masyarakat.

Di tengah arus perubahan yang kian cepat, karnaval ini menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan. Dari langkah kaki para peserta yang berjalan bersama, tersirat pesan sederhana namun kuat—bahwa Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh simbol, tetapi oleh kesadaran kolektif untuk terus menjaga kebhinekaan sebagai kekuatan. Dan dari Kota Semarang, semangat itu kembali dinyalakan, hidup, dan berjalan di tengah masyarakat.

Berita Lainnya

BGN Investigasi Keracunan MBG Sidoarjo, Distribusi Lewat Empat Jam Jadi Temuan Awal

SIDOARJO – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, berdampak pada ratusan santri dan pelajar. Hingga Kamis, 3 September 2026 sore, jumlah penerima manfaat yang terdampak tercatat mencapai...

Tabrak Lari Berujung Maut, Perempuan Pengemudi Outlander Jadi Tersangka

Surabaya — Kecelakaan maut terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (23/8/2026) dini hari. Seorang perempuan berinisial ENR (32) yang mengemudikan Mitsubishi Outlander diduga berkendara dalam pengaruh alkohol hingga terlibat kecelakaan beruntun dan menyebabkan seorang warga meninggal dunia. Peristiwa...

Teguh Istianto: Pemblokiran Ganggu Persiapan, Aksi Warga Pati Tetap Jalan

Jakarta — Pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, menjadi perhatian publik. Rekening Bank Mandiri tersebut diketahui menampung dana pribadi sekaligus donasi masyarakat yang dihimpun untuk mendukung rencana aksi warga Pati di Jakarta. Saat pemblokiran...